Pengembangan Teknologi Tepat Guna Dibutuhkan untuk Kompleksitas Tantangan Zaman

Instagram

Pengembangan Teknologi Tepat Guna Dibutuhkan untuk Kompleksitas Tantangan Zaman

9/24/2019, 9/24/2019

Mataram - Banyak program pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi NTB yang berjalan sinkron, namun masih mengalami beragam kendala penghambat di tingkat masyarakat sasaran.

Pendekatan yang bottom up harus mulai dibudayakan, sehingga muncul gagasan dan ide-ide segar masyarakat yang sesuai kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Sekda Lombok Timur, H Rohman Farly menilai, pemanfaatan teknologi tak bisa dipungkiri sudah menjadi suatu keharusan guna menunjang percepatan capaian program-program pemerintah di sejumlah sektoral.

Namun, secara finansial keuangan daerah umumnya tak akan mampu jika seluruh teknologi harus diadakan atau dibeli dari luar.

"Jadi saya rasa, Teknologi Tepat Guna (TTG) menjadi salah satu solusi menjawab tantangan-tantangan ini. Masyarakat harus mulai dipicu untuk menciptakan gagasan-gagasan berkaitan dengan TTG yang bisa menunjang pembangunan di lingkungannya sesuai kebutuhan," kata H Rohman Farly, Senin ( 23/9 )

Bakal Calon Walikota Mataram ini memaparkan, Teknologi Tepat Guna (TTG) adalah sebuah gerakan idelogis, termasuk manifestasinya, yang awalnya diartikulasikan sebagai "intermediate technology" oleh seorang ekonom bernama Dr. Ernst Friedrich Fritz Schumacher dalam karyanya yang berpengaruh, Small is Beautiful.

Walaupun nuansa pemahaman dari teknologi tepat guna sangat beragam di antara banyak bidang ilmu dan penerapannya, teknologi tepat guna umumnya dikenal sebagai pilihan teknologi beserta aplikasinya yang mempunyai karakteristik terdesentralisasi, berskala relatif kecil, padat karya, hemat energi, dan terkait erat dengan kondisi lokal.

"Secara umum, dapat dikatakan bahwa teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat setempat," papar HRF.

Ia mencontohkan, dalam program NTB Zero Waste misalnya. Masyarakat terutama generasi muda bisa mulai memikirkan teknologi sederhana yang bisa membantu percepatan program.

Tidak semua tumpuan Zero Waste bisa diselesaikan hanya dengan pola Bank Sampah semata.

"Membuat teknologi pengurai sampah organik menjadi pupuk, atau bagaimana mengatur sistem teknologi pemilahan sampah rumah tangga, bisa dilakukan. Dan ini bisa dikembangkan sesuai kebutuhan dan karakteristik di lingkungan masyarakat itu sendiri," imbuhnya .

Di sektor pertanian, HRF mencontohkan, masih banyak dibutuhkan gagasan soal teknologi tepat guna untuk kebutuhan pengairan.

Irigasi Tetes yang saat ini dikembangkan di sejumlah lokasi di NTB misalnya, hanya satu contoh kecil yang bisa dimaksimalkan oleh masyarakat.

"Jadi tidak perlu bayangkan teknologi yang rumit dan mahal. Generasi muda harusnya tertantang untuk TTG ini," katanya.

HRF mengatakan, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini menjadi penunjang luar biasa bagi generasi muda untuk menunjukan kreativitasnya.

Menurutnya, kisah siswa SMP di Aceh yang berhasil menciptakan daya kelistrikan dari kadar asam pohon Kedondong, bisa menjadi inspirasi generasi muda di NTB.

Bahwa, dengan  informasi yang semakin mudah diakses dan didapatkan, kreativitas juga bisa menemukan jalan kemudahannya.

"Apa dan bagaimana menciptakan teknologi terapan bisa dilihat banyak di google atau youtube. Ada begitu banyak tutorial.Tinggal bagaimana masyarakat bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mereka di lingkungannya," ungkap Rohman Farly

*Perlu Wadah Yang Berkesinambungan*

HRF mengatakan, untuk mendukung dan mengembangkan TTG di daerah, maka Pemerintah Daerah bisa memberikan ruang dan wadah yang berkesinambungan.

"Pameran TTG dan lomba-lomba yang terkesan hanya seremonial bisa mulai diubah menjadi wadah yang penuh tantangan bagi generasi muda," katanya.

Di Mataram, papar HRF, bisa digagas dengan pola Bale Ide Kreatif atau semacamnya, seperti Rumah Kreatif yang ada di Bandung, Jawa Barat.

Di Bale tersebut, genarasi muda, para pelajar dan mahasiswa, juga para santri pondok pesantren bisa memunculkan ode-ide mereka, kemudian bersinergi sesama mereka untuk mewujudkan.

"Kelihatannya sederhana saja, mereka bisa berbaur bertukar ide dan gagasan sambil ngopi atau minum teh. Tapi jangan salah, di negara-negara maju justru wadah seperti inilah yang melahirkan teknologi besar, robot dan mesin lainnya," tukasnya .

HRF menambahkan, dengan konsep pengembangan TTG, pola dan mindset masyarakat dalam penggunaan media sosial dan internet juga akan lebih bermanfaat.

Daripada bermain games atau mengunakan medsos untuk hal yang mubazir, masyarakat akan lebih terpacu untuk berpikir memcahkan masalah mereka dengan menemukan teknologi sederhana.

TerPopuler