Header Menu

https://lombokgreentrans.com/sewa-mobil-paling-murah-di-lombok-harga-paling-murah/

Kisah Inaq Zaitun, Delapan Tahun Mengidap Kanker Ganas


LOTENG, LF- Kisah Inaq Zaitun, Delapan tahun mengidap penyakit kanker ganas di bagian wajah. Selama itu pula tak pernah dapat perhatian pemerintah.

Perempuan kelahiran Lendang Gendis Kelurahan Gerunung Kecamatan Praya Lombok Tengah (Loteng) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kondisinya cukup memprihatinkan, baik  dari segi ekonomi, maupun karena penyakit kanker ganas yang sejak lama dideritanya. Kanker itu, semakin hari semakin memakan kulit wajahnya.
Penderita kanker ganas itu, namanya  Inaq Zaitun kelahiran 1958 silam. Terlihat tubuhnya yang semakin kurus karena digerogoti kanker ganas, yang semakin menutupi hidung sebagai jalur pernafasan dan matanya juga semakin tertutupi penyakit yang terus menjalar.

Dirumah yang berdinding pagar beratap genteng ini, ia tinggal bersama anak dan menantunya. Dari rahimnya, lahir enam anak laki-laki dan lima diantaranya sudah berkeluarga. Bersama suaminya, ia hidup dibawah asuhan anak dan menantu.
Setiap harinya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sepenuhnya bergantung pada anak-anaknya.
Kendati dengan kondisi demikian, sang suami masih tetap setia mendampingi dan merawatnya. Demikian juga anak-anaknya, tetap memberikan perhatian lebih.

Kanker yang berawal dari tahi lalat semenjak dedare atau masih muda , awalnya dia tidak tahu kalau tahi lalat yang ada di samping hidungnya adalah kanker ganas.

Perempuan berusia 60 tahun itu mengakui, penyakit yang di idapkan  berawal saat ia menikah," lama-lama semakin besar, mengeluarkan nanah dan darah," ungkapnya saat ditemui wartawan kemarin.

Keluarganya mengaku pernah membawanya berobat ke rumah sakit Yatofa Bodak untuk melakukan operasi, namun sampai sekarang tidak ada hasil. Sementara itu dokter menganjurkan untuk melakukan kemoterapi di Rumah Sakit Provinsi Mataram," tapi tidak punya biaya," ungkapnya.

Setelah operasi dan beberapa pengobatan lainnya berjalan, pihak keluarga mengakui tidak mampu melakukan pengobatan medis lagi, karena faktor ekonomi dibawah rata-rata," untuk makan aja susah," ungkapnya.

Sementara itu anak sulungnya Suparman, mengakui selalu membawa ibunya pergi kontrol ke puskesmas sekali seminggu, namun pihak puskesmas hanya mencucinya dengan air alkohol dan memberinya sedikit obat pereda nyeri," kalau tidak punya uang untuk kontrol, saya hanya bisa membelikan amoksilin sebagai pereda nyeri," pungkasnya.

Anak sulung yang bekerja sehari-hari sebagai kuli bangunan mengakui, hasil kerjanya tidak cukup untuk biaya hidup keluarga sehari-hari, pihaknya mengakui upah yang ia dapatkan hanya habis untuk makan sehari-hari," tidak ada yang bisa ditabung untuk berobat, karena gaji kuli bangunan perhari pas-pasan buat beli beras dan uang dapur," pungkasnya.
Sementara itu suami Inaq Zaitun, H. Muhsin berharap kesembuhan untuk sang istri," mudahan ada Darmawan yang bisa membantu," harapnya.

Ia juga mengakui tidak pernah mendapatkan bantuan dari Desa," entah berbentuk PKH maupun Beras Miskin," tutupnya.

Pria bertopi putih itu berharap uluran tangan dari saudara-saudara semua, untuk penyembuhan sang istri," semoga istri saya bisa sembuh," harapnya. (Bt)