Header Menu

https://lombokgreentrans.com/sewa-mobil-paling-murah-di-lombok-harga-paling-murah/

Pola Pikir Teori Jaring Laba - Laba Cobweb Berpindah ke Geerz Model


Era 4.0 Revolusi Industri membangun kerajaan relasi bisnis sudah banyak teori" jadul yang mulai usang. Salah satunya adalah teori membangun relasi secara "Comunication Oral Self". Tanpa menciptakan perekat yang luas.

Orang pertama yang mengajukan model jaring laba – laba adalah John Burton dalam bukunya yang berjudul World Society. Model jaring laba-laba menunjukkan bahwa di dalam suatu negara terdapat banyak kelompok dengan berbagai kepentingan yang berbeda. Kelompok masyarakat ini memiliki hubungan eksternal dengan berbagai kelompok masyarakat yang berada di negara lainnya.

Ada berbagai jenis kelompok masyarakat seperti, kelompok agama, kelompok bisnis, kelompok pekerja, kelompok etnik dll.  Model jaring laba-laba menunjukkan pola hubungan dan komunikasi antar berbagai kelompok masyarakat yang melintasi batas-batas negara. Hubungan ini sangat kompleks karena ada begitu banyak aktor yang terlibat di dalamnya. Model ini memiliki perbedaan dengan model kaum realis yang menggambarkan pola hubungan di dunia sebagai serangkaian bola bilyar , yang merdeka dan dapat berdiri sendiri.  Perbedaan mendasar dari dua model ini adalah kerjasama, kaum liberal lebih menekankan adanya kerjasama.

Model jaring laba-laba dibangun berdasarkan pemikiran kaum liberal tentang efek menguntungkan dari keanggotaan yang tumpang tindih bagi seorang individu di dalam kelompok. Karena seorang individu merupakan angota dari berbagai kelompok yang berbeda, maka resiko terjadinya konflik di antara kelompok tersebut akan berkuran dan akan memperbesar kemungkinan terjadinya kerjasama.

*Transnational Society and Transnational Politics*

Dalam pandangan liberal negara bukan satu-satunya aktor yang berperan dalam hubungan transnasional. Ada banyak aktor yang memiliki peran, tujuan, dan kepentingan yang berbeda. Setiap lapisan masyarakat dapat menjadi aktor transnasional yang terlepas dari kendali negara.

Hubungan saling ketergantungan yang tumpang tindih antara masyarakat di berbagai negara lebih kooperatif dibandingkan dengan hubungan antarnegara yang lebih bersifat eksklusif. Menurt liberalis, kepentingan aktor transnasional bukan negara tidaklah bertentangan. Dunia akan menuju kedamaian dengan sejumlah besar jaringan transnasional.

*Interdependency Liberalism*

Interdependensi memiliki arti saling ketergantungan.   Kaum liberalis percaya bahwa kesejahteraan lebih penting daripada keamanan. Di masa yang lalu, kenamyakan negara-negara memperlua kekuasaan mereka melalui kekuatan militer. Semakin luas wilayah mereka maka semakin banyak sumber daya alam yang mereka kuasai, itulah sumber kejayaan di masa lalu.

Tetapi sekarang muncul negara-negara yang memperhatikan isu isu perdagangan ekonomi dan industrialisasi.  Bagi mereka pembangunan ekonomi adalah alat menuju kejayaan. Pembangunan ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan negara.  Kekuatan tenaga kerja yang memiliki kualifikasi yang tinggi, akses informasi, dan modal keuangan adalah kunci menuju keberhasilan.

Pasca perang dunia kedua negara-negara besar dapat di bagi kedalam dua jenis. Yang pertama adalah negara-negara yang berorientasi kepada kepada perdagangan dan ekonomi, contohnya adalah Jepang dan Jerman. Mereka menahan diri untuk tidak meningkatkan belanja militer. Tipe yang kedua adalah negara –negara yang mengejar pilihan politik tradisional militer. Negara ini memiliki anggaran militer yang sangat besar, contohnya Amerika Serikat dan Uni Soviet. Belanja militer yang tinggi tentu saja berdampak kepada pembebanan terhadap keuangan negara. Sejarah telah memperlihatkan bahwa pilihan tradissional militer adalah pilihan yang kurang penting.

Pada dasarnya, kaum liberal berpendapat bahwa pembagian tenaga kerja menjadi hal yang sangat penting bagi keberlangsungan interdependensi antarnegara. Interdependensi antarnegara dapat mengurangi resiko terjadinya konflik, bahkan dapat meredam konflik. Sebagai contoh, negara yang memiliki interdependensi adalah Malaysia dan Indonesia. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan Malaysia sebagai lahan bekerja bagi warga negara Indonesia, di sisi yang lain Malaysia membutuhkan Indonesia sebagai sumber tenaga kerja yang murah. Interdependensi ini dapat meredam konflik yang terjadi di antara kedua negara. Walaupun sering terjadi konflik, tetapi konflik tersebut tidak pernah berubah menjadi perang.

Dalam pendekatan liberalisme interdependensi, dikenal pula teori integrasi internasional dan neofungsionalis yang dikembangkan oleh Ernst Haas. Teori ini mendapat ilham dari semakin intensifnya kerjasam di negara negara Eropa pada awal 1950-an. Integrasi memiliki pemikiran bahwa jika kerjasam di suatu wilayah semaikin intensif maka akan meningkatkan kerjasama di wilayah lain. Teori fungsional tidak mengijinkan terjadinya kemunduran dalam hubungan kerjasama.

Dalam interdependensi yang lebih kompleks, maslah keamanan dan militer tidak begitu penting, ada dua alasan yang berkaitan dengan hal tersebut. Pertama, hubungan antarnegara sekarang tidak hanya hubungan antarpemimipin negara, tetapi juga hubungan pada berbagai lapisan  yang melibatkan banyak aktor dan cabang pemerintahan yang berbeda. Kedua, hubunga antar individu dan kelompok transnasional yang berada di luar negara. Jadi kekuatan militer merupakan hal yang kurang bermanfaat dalam interdependensi kompleks.

Interdependensi kompleks menyatakan hubungan yang lebih bersahabat dan kooperatif. Menurut Keohane dan Nye hal ini menimbulakn beberapa konsekuensi. Pertama, negara-negara akan terus mengejar tujuan mereka yang berbeda dan aktor-aktor transnasional yang lain juag akan mengejar tujuan mereka sendiri yang berbeda dengan tujuan negara, mereka terpisah dan terbebas dari kendali negara. Kedua, sumber daya kekuatan akan menjadi lebih spesifi pada isu tertentu, namun pengaruh tersebut tidak akan mudah dalam mengubah isu di bidang yang lain. Ketiga, organisasi internasional akan mengambil peran yang lebih penting. Organisasi internasional akan menjadi wadah pembentukan koalisi dan menjadi alat untuk mengatur situaasi dan agenda internasional.

Liberalisme interdependensi dapat diringkas sebagai berikut. Modernisasi meningkatkan derajat dan ruang lingkup interdependensi di antara negara-negara. Dalam interdependensi kompleks aktor transnasional merupakan keberadaan yang penting,  kekuatan militer merupakan instrumen yang kuarang bermanfaat, mengesampingakan keamanan demi kesejateraan. Kesejahteraan menjadi hal yang utama dan dicapai melalui hubungan internasional yang leboh kooperatif. (*)

Muhammad Ichsan
Kajian  Pascasarjana SEA Studies Universitas Indonesia