Owner Metzo Angkat Bicara, Wolini :Manajemen Tidak Pernah Menyediakan Layanan Tarian Telanjang.

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

deskripsi gambar

Owner Metzo Angkat Bicara, Wolini :Manajemen Tidak Pernah Menyediakan Layanan Tarian Telanjang.

2/13/2020
Mataram | Kasus Penggrebekan terhadap tempat hiburan Metzo Executive Club di Senggigi sempat heboh beberapa hari ini, banyak aktivis yang angkat bicara tentang hal itu. Menurut informasi bahwa pihak kapolda telah mengamankan dua orang wanita yang terduga menari tanpa busana di tempat hiburan tersebut.

Pemilik (Owner) Metzo Executif Club Ni Ketut Wolini mengaku mengetahui adanya tarian telanjang yang di lakukan oleh dua orang pemandu lagu yang di fasilitasi oleh "papi" melalui pemberitaan di media massa. Ia menegaskan tarian tanpa busana (striptis) yang di lakukan oleh dua pemandu lagu tersebut tanpa sepengetahuan manajemen dan owner.

"Manajemen tidak pernah menyediakan layanan tarian telanjang kepada pengunjung yang datang," tegasnya pada saat konferensi pers di Jalan Kecubung Gomong Mataram. Kamis (13/2/20).

Wolini menyatakan di Metzo terdapat aturan tegas yang terpajang di semua ruang karaoke yang tidak membolehkan adanya perbuatan asusila.

"Demi tuhan saya tidak tahu ada pelayanan tari telanjang, kami di manajemen dan owner tidak pernah menyediakan layanan semacam itu, terlebih di Metzo sudah jelas ada aturan yang tidak membolehkan adanya perbuatan asusila, menggunakan narkoba, membawa sajam dan senpi, itu aturan yang sudah di terapkan sejak di bangunnya Metzo," papar Wolini saat menggelar jumpa pers di kediamannya, Kamis (13/2).

Wolini juga mengatakan akan mengambil tindakan tegas bila ada karyawan yang melanggar aturan tersebut.
"Tentu ada sanksi kepada karyawan yang melanggar aturan, bila kesalahannya fatal kita bisa berhentikan atau kita pecat," tegas Wolini.
Terkait proses hukum kasus penari telanjang tersebut, Wolini meminta semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

"Karena kasus nya sudah di ranah kepolisian mari kita sama sama hormati proses hukum nya biar semua terang benderang," jelas Ketua PHRI NTB tersebut.

Ketut Wolini pun menyesalkan adanya kejadian yang mencoreng nama tempat usahanya tersebut seraya meminta semua pihak untuk tidak menuding manajemen dan owner yang seolah-olah menyediakan layanan penari tanpa busana tersebut.